Sabtu, 10 Januari 2015

Aku Ingin Pulang

Aku sakit
Aku  ingin pulang
Dengan segenap masalah
Yang memenuhi kepala
Dan menghimpit dada.

Aku ingin pulang
Kepada hati hati
Yang selama ini aku acuhkan
Yang selama ini aku lalaikan

Mereka yang memberi aku senyum
Mereka yang mengulurkan tangan
Disaat aku terjatuh dan hampir mati.

Aku ingin pulang
Kepangkuan ibu yang hangat
Dan memeluknya
Sambil berkata:
"Ibu,aku telah lelah terbang".

Aku ingin pulang
Karena disana
Aku bisa bermanja
Karena disana
Aku lebih merasakan
sebagai seorang anak.

Ibu,
bukakan pintu
Karena perjalanan ini
begitu melelahkan .
Ragaku,fikirku
Hatiku, juga airmataku.
Terlalu bodoh menangisi seseorang
Yang membuatku tersenyumpun ia tak bisa.

Ibu,
bukakan pintu
Dan  sambutlah aku
Dengan senyummu
Ibu,
Bukakan pintu,ku mohon

Sabtu, 27 Desember 2014

Menutup Akhir 2014

Menutup tahun 2014
Menutup segala luka
Menutup kecewa
Menutup derita

Menutup tahun 2014
Tak berarti menutup mimpi
Mimpi akan terus berlanjut
Sampai menjadi nyata

Menutup tahun 2014
Selamat tinggal

Menjemput 2015
Ditahun ini
Semua mimpiku
Semoga menjadi nyata
Dan aku ingin menjadi
Semanusia manusianya manusia

Kamis, 18 Desember 2014

Mencari Mutiara di Dasar hati


Mencari Mutiara di Dasar hati
Saudaraku, genggam erat-erat tali keimanan kita.
 Kenalilah diri.
 Pahami kebiasaannya. 
 Rasakan setiap getarannya.
 Lalu kecenderungannya. 
Waspadai kekurangannya. 
Berdo’alah pada Allah agar ia menyingkapkan Ilmu-Nya tentang diri.
 Sebagaimana senandung doa yang dilanturkan Yusuf bin Asbath, murid Sofyan Ats Tsauri:
”Allhummaarrifni nifsii”.
 Ya Allah kenalkan aku dengan diriku……
Jiwa manusia banyak menyimpan rahasia . 
Misteri hati dan jiwa manusia sulit dikenali dengan baik kecuali dengan bantuan Allah swt pada kita.
 Karena itu ulama terkenal yang ahli dalam masalah kejiwaan Sahal bin Abdillah mengatakan bahwa mengenali diri sendiri itu lebih sulit dan lebih halus dari pada mengenali musuh . 
Artinya,aib dan kekurangan yang terselubung dalam diri, sangat sulit dideteksi, dan harus dibuka oleh Allah agar seseorang dapat membersihkan diri dan jiwanya. 

Tulisan Ustadz Muhammad Nursani di buku tarbawi

Arti Diammu....

 Tak pernah kumengerti arti diammu
sampai saat ini
Menumpuk kerinduan
atau justru memendam kesalahanku.
Jika kesalahanku adalah panas
Dan diammu adalah hujan
Semoga pelanginya ketika kita bicara
dengan baik tanpa aku menyakiti
berapa poin lagi yang harus kulupakan
setelah harus memahami kesibukanmu.
sepi tanpamu
Seperti menemukan diujung senja
seperti itulah kebahagiaanku
saat kau menyapa
Engkau adalah bagian hidupku

Palembang, 18 Desember 2014

Kamis, 02 Januari 2014

01 Januari 2014



Saya membuka facebook. Dan melihat sebuah kiriman di group kampus. Hm.. ada 40 foto wisuda tertanggal 30 Desember 2013. Wisuda kampus, yang seharusnya saya juga berada disana. Tetapi karena saya belum selesai skripsi, saya tertunda( semoga 2014 saya bisa wisuda). Bagaimana perasaan saya? Sedihkah? Hancurkah?Hm, sedih sih iya… tapi kalau hancur…enggak kali…
Saya lihat foto itu  semuanya. Dan Alhamdulillah, saya bisa menenangkan diri. Saya akui, saya telah gagal kali ini. Gagal untuk yang pertama kalinya dalam dunia pendidikan. Di riwayat pendidikan saya, saya termasuk pelajar/mahasiswa yaang rajin dan selalu berada di atas standar(cieee… harap maklum,  membesarkan hati diri sendiri), paling tidak, dari kelas 5 SD sampai dengan SMA saya membiayai sekolah saya dengan uang beasiswa yang saya terima. Kuliahpun saya memakai uang hasil kerja saya. Tapi kali ini saya gagal. Dan saya mengakui kesalahan saya. Menyesal sih, tetapi saya ambil positifnya. Kemarin ketika menyusun skripsi, saya malah asyik nge les anak-anak, biasa, untuk tambahan modal bisnis. Dan Alhamdulillah, saya sudah memulai merintis suatu bisnis. Walau agak tertatih, saya akan terus tekuni bisnis ini. Jadi, saya legowo atas kekalahan ini
Saya, dan Tasyakuran Wisuda di Palembang
Saya telah “dikukuhkan” sebagai anak angkat oleh sebuah keluarga di Sakatiga, Palembang. Dan hari ini, pasti disana sedang sibuk-sibuknya. Nanti malam ada tasyakuran wisuda kakak angkat saya,dan tasyakuran kakak angkat yang lain karena sudah mendapatkan pekerjaan yang begitu mulia. Pikiran saya disana, waaah…bangganya umak (ibu) dan bapak angkat saya terhadap dua anak saya. Saya sendiri masih di Jogja, dan akan ke Palembang saat saya sudah wisuda nanti. Ini adalah hadiah dari kakak angkat saya. Kapan???? Saya enggak tahu. Penghujung tahun ini mungkin (padahal, tahunnya baru aja diawali).
Perih memang. Dan itu perih yang kedua kali. Tetapi saya mencoba untuk bersabar. Untuk tegar. Ingin rasanya saya telpon Umak. Tetapi kalua umak tanya: Veeda kapan wisudanya?, bukankah akan semakin menohok hatiku?? Jadi,saya memilih untuk diam. Bersama hujan yang menyepikan jiwa. Tetapi dalam hati saya, saya berjanji, tidak akan malas lagi. Di penghujung tahun ini Saya berjanji tak akan gagal lagi, kalau bukan untuk diri sendiri, paling tidak untuk orangtua kandung,orangtua angkat, saudara angkatku, dan untuk seorang yang selalu menyayangiku.

Jumat, 27 Desember 2013

Belajar Tangguh Dari Murid Kecilku



Pagi itu cuaca sangat cerah setelah satu pekan Bantul diguyur hujan. Saya sudah siap di sekolah satu jam sebelum pembagian rapor. Ya, hari itu agenda kami membagikan rapor. Watu berjalan dengan sangat cepat. Ada satu rapor yang belum diambil. Saya bersabar untuk tetap menunggu.
Saat saya hendak keluar dari kelas, saya melihat walimurid saya turun dari motornya. Saya bersiap menyambutnya. Suaranya serak. Matanya merah. Setelah tandatangan, Saya menyampaikan hasil belajar putrinya. Wanita itu terlihat sangat lelah.
“Alhamdulillah ya ibu, mbak Rara selama smester ini banyak perkembangan, kalau dulu pertama kali sekolah suka memukul, sekarang sudah tidak lagi, empatinya tinggi bu, dan bersemangat sekali kalau menghafal.  Sosialisasinya juga baik,kemampuan kognitif, bahasa, fisik motorik semuanya sudah baik Bu”…bla.bla.bla…..Saya terus menjelaskan. Mata Ibu itu memerah, airmatanya menggenang sambil menceritakan kondisi anaknya.
“ Alhamdulillah Bu Guru, Saya sangat bahagia Rara sekolah disini. Banyak perkembangannya bu. Kadang saya kalau keluar rumah nggak pakai jilbab suka ditegur. “Ibu…walaupun Cuma ke warung,kita itu harus pakai jilbab loh Bu”, begitu katanya. Budenya juga sering ditegur. Rara itu anak yang baik Bu, anak yang mau prihatin. Sebelum shubuh dia udah bangun, mandi, selalu sholat ke masjid sama kakungnya, habis itu jam lima pagi Rara dan saya sudah berangkat ke pasar Bantul. Dingin Bu, apalagi kalau hujan. Terkadang saya nggak tega membawa Rara bersama saya. Tetapi kalau saya suruh libur dulu, dia bilang “ Ibu itu gimana to Bu…kita itu harus bersemangat Bu.. nggak boleh menyerah begitu saja”, katanya waktu itu. Saya terdiam, menangis dalam hati saya mendengar cerita ibu itu. “Sampai di pasar Rara maem Bu, kadang juga ikut kulakan barang juga”, ceritanya sambil menangis, Saya ulurkan beberapa tissue kepada beliau. “Baru setelah makan, saya antar ke sekolah, makanya dia tidak pernah terlambat”, tuturnya agak mereda.
“ Mbak Rara penempaannya sungguh luar biasa ya Bu, pantesan Mbak Rara itu logikanya dan bicaranya itu sering seperti orang dewasa”, kataku menimpali.
“iya Bu, dia itu dewasa. Ketika eyang utinya meninggal kemarin dia sangat bersedih sampai sakit, bberapa hari kemarin saat eyang kakungnya duduk bersamanya, dia bilang “Kung…dijaga kesehatannya ya kung… kakung itu kalau meninggalnya kalau sekolahku sudah tinggi ya Kung..”, kakungnya sampai nangis Bu. Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Ibu Guru sekalian, nitip anak saya njih Bu”,tuturnya mengakhiri kisahnya.
…………………………………………………..
Hari itu, saya benar – benar mendapatkan sebuah pelajaran hidup yang luar biasa. Pelajaran bagaimana tetap berdamai dengan pahitnya kehidupan. Bagaimana menjadi pribadi yang tangguh lagi tidak pernah menyerah. Subhanalloh…. Hari yang syarat tentang hikmah. Saya bersyukur telah diberi kesempatan untuk membersamainya. Anak berumur3,7 tahun itu, telah memberi contoh  bagaimana kita mensikapi kerasnya hidup. Rara…. Guru kecilku yang selalu di hati..

Kamis, 26 Desember 2013

Kisah Masuk Islamnya Dr. Mohammad Stefan Dari Rumania

Segala puji bagi Allah, senang sekali saya bisa bertemu kalian disini. Dan saya berharap pada suatu hari nanti dapat bertemu kalian di Rumania, saya bertemu kalian dalam rangka dakwah.
Suatu hari saya jalan-jalan ke Turki. Dan pada malam hari saya tersesat di jalan karena kesalahan saya. Kemudian saya memberhentikan seorang pejalan kaki dan saya bertanya kepadanya,
"Apakah anda tahu alamat ini?"
Saya memperlihatkan sebuah brosur hotel kepadanya, dan dia berkata,
"Di desa ini tidak ada hotel, tapi saya harap tuan menjadi tamu saya malam ini."
Kemudian kita pergi ke rumahnya sedang saat itu suasana gelap. Saya tidak dapat melihat sesuatu apapun kecuali pintu depan rumah yang telah dibuka.
Saya lihat di dalamnya ada lima anak-anak dan dua orang wanita tua. Saya pun lantas berkata dalam hati, "(bararti) tempat ini aman."

Kemudian orang tersebut memanggil saya dan istri saya agar masuk, lalu mengajak kami untuk menyantap makan malam yang sangat sederhana.
Kami merasa sangat nyaman karena cara perlakuan orang tersebut terhadap kami. Dia berkata,
"Kalian tidur disini, kami punya tempat lain untuk tidur."
Besoknya saat saya bangun tidur, saya mencarinya untuk menyampaikan rasa terima kasih kepadanya dan saya akan melanjutnya acara jalan-jalan saya. Ketika saya keluar dari rumahnya waktu sudah siang, dan saya dapat melihat apa saja. Ternyata saya dapati bahwa rumah tersebut tidak memiliki ruangan lain selain yang saya tempati, itulah rumahnya. Dia bersama lima anak-anaknya, istri dan ibunya ternyata tidur di luar rumah di bawah sebuah pohon dalam keadaan terbuka dengan cuaca sangat dingin.
Saya sangat terkejut lalu saya mendatanginya dan berkata,
"Apakah anda gila, kenapa anda melakukan ini?"
Kemudian ia melihat wajah saya sambil tersenyum dan berkata,
"Tidak, saya tidak gila. Kalian berdua adalah musafir, dan menjadi kewajiban saya untuk memberikan apa saja yang saya punya, sebab saya seorang muslim."
Saat orang tersebut berkata "saya muslim", wajahnya terlihat bersinar seperti cahaya api. Sedang saya masih sangat terkejut, dan istri saya pun mulai menangis.
Saya berkata pada istri saya,
"Lihatlah, apa yang kamu tahu tentang Islam, sedang kamu sekarang telah melihat bagaimana orang tersebut memperlakukan kita?"
Orang tersebut kemudian berkata kepada kami,
"Saya tidak tahu banyak tentang Islam, akan tetapi kalian bisa kitab Alqur'an, atau kalian bisa baca hadits. Semoga ketika anda membacanya anda akan tahu lebih banyak tentang Islam."
Maka secepatnya saya pergi ke perpustakaan dan saya membeli sebuah mushaf dan beberapa kitab hadits, dan saya mulai membacanya. Saya terus membacanya selama kurang lebih dua bulan. Dan setelah dua bulan berlalu Allah telah membuka hati saya dan saya mengucapkan,
"Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasuulullah."
Dan saya resmi menjadi seorang muslim pada tanggal 17 Januari 1993, alhamdulillah

http://fairuz-ahmad.blogspot.com/2013/12/kisah-masuk-islamnya-dr-mohammad-stefan_2577.html#more