Senin, 04 Mei 2015

Kepala Sekolah yang Bijak



(Mengatasi Konfilk Secara Sempurna)

Pada suatu hari, di sebuah sekolah menengah. Saat jam istirahat, ada perkelahian antara dua murid laki-laki di kelas. Kerumunan murid pun berakhir saat seorang guru datang menengahi dan melerai mereka. Tidak lama kemudian, saat pelajaran berikutnya akan dimulai, Kepala Sekolah masuk ke kelas tersebut dan langsung menyampaikan maksud kedatangannya.

“Andika, kamu nanti datang kantor Bapak, jam 3 sore.”Seisi kelas terdiam sedangkan murid yang dimaksud seketika berwajah pucat pasi.
“Baik Pak,” ia menjawab lemah. Habis aku! Pasti akan dimarahi dan dikenai sanksi gara-gara perkelahian tadi, begitu pikir Andika.
Tepat pukul 3 sore, Andika telah ada di depan kantor dan mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. Jantungnya berdegup keras dan tubuhnya serasa lunglai.

“Masuk!” terdengar suara dari dalam. Andika pun masuk. Dengan takut-takut, ia berdiri dekat meja kepala sekolah, sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Duduklah Andika. Kamu tentu sudah bisa menebak, kenapa Bapak memanggilmu kan? Tentu berkaitan dengan perkelahianmu tadi,” kata kepala sekolah yang diikuti anggukan kepala Andika.

Lanjutnya, “Andika telah melanggar peraturan tentang tidak boleh berkelahi di dalam lingkungan sekolah, apalagi di kelas. Tetapi ada beberapa hal yang ingin bapak sampaikan berkaitan dengan kasusmu ini. Pertama, bapak senang kamu datang tepat waktu, itu menunjukkan kamu adalah anak yang disiplin.” Beliau membuka laci mejanya, mengambil sebuah permen, dan meletakkannya di meja.

“Kedua, bapak menghargai kedatanganmu saat ini. Artinya kamu menghargai bapak sebagai guru dan kepala sekolahmu. Kamu adalah anak yang berjiwa besar dan siap bertanggung jawab. Betul begitu Andika?’ Kembali Andika mengiyakan dalam diam. Beliau mengambil permen dan meletakkannya lagi di meja.
“Bapak sudah berbicara dengan guru yang melerai perkelahian dan mendengar dari beberapa temanmu. Kamu berkelahi dengan Rudi karena membela teman perempuan yang dilecehkan olehnya. Benar begitu? Bapak salut. Ini pertanda kamu adalah seorang gentleman, laki-laki sejati. Tapi ingat: berkelahi bukanlah pilihan untuk menyelesaikan masalah. Andika harus lebih bijak dan jelas, bukan dengan berkelahi seperti tadi.” Kepala sekolah meletakkan sebuah permen lagi di atas meja.

“Nah yang terakhir, karakter positif yang telah Andika tunjukkan hari ini harus dipertahankan dan dikembangkan di masa depan. Bapak yakin kamu akan berubah dan akan maju di kemudian hari. Belajar lebih baik Andika, oke?” Sambil tersenyum, beliau menambahkan satu buah permen lagi di meja dan menyodorkan permen-permen tersebut ke arah Andika. “Ambillah hadiah dan kenang-kenangan dari Bapak ini!”

Andika yang awalnya ketakutan akan mendapat hukuman, dan tidak menyangka justru mendapat “penghargaan” dari kepala sekolahnya, mengangguk mantap. “Terima kasih Pak. Saya sangat terkejut. Bapak tidak menghukum saya bahkan memuji dan menghargai saya. Saya berjanji, pasti berubah dan akan lebih rajin belajar untuk masa depan saya sendiri.”

Renungan :
Betapa pentingnya nilai budi pekerti ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Kita tahu, mereka kadang melakukan kesalahan tetapi kalau cara kita sekadar keras dengan hanya menghukum tanpa diberi pengertian yang baik, tentu akan melahirkan ketidaksehatan perkembangan mental. Antara lain, bisa menimbulkan sakit hati, dendam, kebencian,depresi, putus asa, dan sifat-sifar negatif lainnya.

Akan tetapi bila kita mampu memberikan pengertian sekaligus menanamkan budi pekerti yang baik, sekalipun ada hukuman, tetap nilainya akan berbeda. Harga diri dan kepercayaan diri anak-anak tetap terjaga dan sangat positif dalam pertumbuhan di kehidupan mereka selanjutnya.
Semoga bermanfaat.(Silahkan berbagi jika ini membawa manfaat bagi anda)

https://www.facebook.com/pendidikankarakter?fref=ts

Sabtu, 02 Mei 2015

AKU DAN SKRIPSIKU

Ia meresahkan jiwaku
Membebani piikiranku
Membelenggu,,
Bahkan merampas kebebasanku
Juga kebahagiaanku
Namun, aku bertekad
Cepat

aah.....galau

Senin, 02 Maret 2015

Kita Berhutang Pada Anak-Anak Kita



Kita selalu berhutang banyak cinta kepada anak-anak. Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah. Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan. Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan. Tetapi seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka... Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya, menghibur kita dengan tawa kecilnya, menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya... Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya... Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.

Kita selalu berhutang banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita. Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka, tetapi sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan... Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.

Kita selalu berhutang banyak waktu tentang anak-anak kita. Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap, dan bermain dengan mereka? Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?

Tentang anak-anak, sesungguhnya merekalah yang selalu lebih dewasa dan bijaksana daripada kita. Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.

Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita... Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi. Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa. Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri. Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.

... Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.

Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang dan penyesalan, katakan kepada mereka, "Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan... Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Tuhan tak berkenan. Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya... Lebih baik dari sebelumnya."

sumber: entah darimana sumbernya,
dapat kiriman dari WA.bagi yang menulis pertama kali
terimakasih dan mohon izin share ya

Sabtu, 10 Januari 2015

Aku Ingin Pulang

Aku sakit
Aku  ingin pulang
Dengan segenap masalah
Yang memenuhi kepala
Dan menghimpit dada.

Aku ingin pulang
Kepada hati hati
Yang selama ini aku acuhkan
Yang selama ini aku lalaikan

Mereka yang memberi aku senyum
Mereka yang mengulurkan tangan
Disaat aku terjatuh dan hampir mati.

Aku ingin pulang
Kepangkuan ibu yang hangat
Dan memeluknya
Sambil berkata:
"Ibu,aku telah lelah terbang".

Aku ingin pulang
Karena disana
Aku bisa bermanja
Karena disana
Aku lebih merasakan
sebagai seorang anak.

Ibu,
bukakan pintu
Karena perjalanan ini
begitu melelahkan .
Ragaku,fikirku
Hatiku, juga airmataku.
Terlalu bodoh menangisi seseorang
Yang membuatku tersenyumpun ia tak bisa.

Ibu,
bukakan pintu
Dan  sambutlah aku
Dengan senyummu
Ibu,
Bukakan pintu,ku mohon

Sabtu, 27 Desember 2014

Menutup Akhir 2014

Menutup tahun 2014
Menutup segala luka
Menutup kecewa
Menutup derita

Menutup tahun 2014
Tak berarti menutup mimpi
Mimpi akan terus berlanjut
Sampai menjadi nyata

Menutup tahun 2014
Selamat tinggal

Menjemput 2015
Ditahun ini
Semua mimpiku
Semoga menjadi nyata
Dan aku ingin menjadi
Semanusia manusianya manusia

Kamis, 18 Desember 2014

Mencari Mutiara di Dasar hati


Mencari Mutiara di Dasar hati
Saudaraku, genggam erat-erat tali keimanan kita.
 Kenalilah diri.
 Pahami kebiasaannya. 
 Rasakan setiap getarannya.
 Lalu kecenderungannya. 
Waspadai kekurangannya. 
Berdo’alah pada Allah agar ia menyingkapkan Ilmu-Nya tentang diri.
 Sebagaimana senandung doa yang dilanturkan Yusuf bin Asbath, murid Sofyan Ats Tsauri:
”Allhummaarrifni nifsii”.
 Ya Allah kenalkan aku dengan diriku……
Jiwa manusia banyak menyimpan rahasia . 
Misteri hati dan jiwa manusia sulit dikenali dengan baik kecuali dengan bantuan Allah swt pada kita.
 Karena itu ulama terkenal yang ahli dalam masalah kejiwaan Sahal bin Abdillah mengatakan bahwa mengenali diri sendiri itu lebih sulit dan lebih halus dari pada mengenali musuh . 
Artinya,aib dan kekurangan yang terselubung dalam diri, sangat sulit dideteksi, dan harus dibuka oleh Allah agar seseorang dapat membersihkan diri dan jiwanya. 

Tulisan Ustadz Muhammad Nursani di buku tarbawi

Arti Diammu....

 Tak pernah kumengerti arti diammu
sampai saat ini
Menumpuk kerinduan
atau justru memendam kesalahanku.
Jika kesalahanku adalah panas
Dan diammu adalah hujan
Semoga pelanginya ketika kita bicara
dengan baik tanpa aku menyakiti
berapa poin lagi yang harus kulupakan
setelah harus memahami kesibukanmu.
sepi tanpamu
Seperti menemukan diujung senja
seperti itulah kebahagiaanku
saat kau menyapa
Engkau adalah bagian hidupku

Palembang, 18 Desember 2014